MAKANAN JAJANAN
A. Pengertian Makanan Jajanan
Makanan
jajanan menurut FAO didefisinikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan
dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian
umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan
lebih lanjut (Judarwanto, 2008). Menurut
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 942/MENKES/SK/VII/2003,
makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan
di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual
bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan atau restoran, dan
hotel. Makanan kecil atau jajan adalah makanan yang biasanya menemani minum
teh, kopi, atau minuman dingin. Dapat dihidangkan pagi sekitar jam 10.00 atau
sore hari pukul 16.00 – 17.00, kadang-kadang dapat dihidangkan pada
malam hari sebelum tidur. Kira-kira satu kali makan jajan, seseorang cukup 1-2
potong yang mengandung 150-200 kalori (Tarwotjo, 1998).
Pangan
jajanan termasuk dalam kategori pangan siap saji yaitu makanan dan minuman yang
dijual untuk langsung dikonsumsi tanpa proses pengolahan lebih lanjut. Ragam
pangan jajanan antara lain: bakso, mie goreng, nasi goreng, ayam goreng,
burger, cakue, cireng, cilok, cimol, tahu, gulali, es jepit, es lilin dan ragam
pangan jajanan lainnya (Direktorat Perlindungan Konsumen, 2006).
B. Menu Makanan Jajanan
Jenis
makanan jajanan menurut Widya Karya
Nasional Pangan dan Gizi dalam Mariana (2006) dapat digolongkan menjadi 3
(tiga) golongan, yaitu:
1) Makanan
jajanan yang berbentuk panganan, seperti kue kecil-kecil, pisang goreng
dan
sebagainya.
2) Makanan
jajanan yang diporsikan (menu utama), seperti pecal, mie bakso, nasi
goreng
dan sebagainya.
3) Makanan
jajanan yang berbentuk minuman, seperti es krim, es campur, jus buah
dan
sebagainya.
Menurut
Tarwotjo (1998) ada 2 jenis makanan jajanan, yaitu:
1. Makanan jajanan dengan rasa manis
Bila
dilihat dari cara memasaknya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu jenis makanan
jajanan basah dan kering.
a. Kue basah
manis, antara lain sebagai berikut:
- Aneka bubur, seperti: bubur sumsum, bubur
candil, dan bubur sagu.
- Aneka kolak, seperti: kolak pisang, kolak
ubi, dan kolang-kaling.
- Aneka jajan yang dikukus, seperti: nagasari,
putu mayang, dan kue lapis.
- Jajan yang direbus, seperti: kelepon,
ongol-ongol, dan agar-agar.
b. Kue kering
manis, antara lain sebagai berikut:
- Aneka goreng-gorengan, seperti: pisang goreng
dan ubi kunig goreng.
- Aneka kue yang dipanggang, seperti: cake, bolu, kue kering dan yang dipanggang
dengan cetakan, misalnya kue lumpur dan carabikang.
2. Makanan jajanan dengan rasa asin
Makanan
jajanan dengan rasa asin, seperti arem-arem, lumpia dan risol.
C. Peran Makanan Jajanan
Peranan
makanan jajanan antara lain: (Khomsan,2003)
1) Merupakan
upaya untuk memenuhi kebutuhan energi karena aktivitas fisik di sekolah yang tinggi (apalagi bagi anak yang
tidak sarapan pagi).
2) Pengenalan
berbagai jenis makanan jajanan akan menumbuhkan penganekaragaman pangan sejak
kecil.
3) Meningkatkan
perasaan gengsi anak pada teman-temannya di sekolah.
Peranan makanan jajanan mulai
mendapat perhatian secara internasional yang banyak menaru perhatian terhadap
studi dan perkembangan makanan jajanan. Peranan makanan jajanan sebagai
penyumbang gizi dalam menu sehari- hari yang tidak dapat disampingkan.
Makanan jajanan mempunyai fungsi
sosisal ekonomi yang cukup penting, dalam arti pengembangan makanan jajanan
dapat meningkatkan sosial ekonomi pedagang. Di samping itu, makanan jajanan
memberikan kontribusi gizi yang nyata terhadap konsumen tertentu (Persagi,
1992).
Kebiasaan jajan di sekolah sangat
bermanfaat jika makanan yang dibeli itu sudah memenuhi syarat-syarat kesehatan,
sehingga dapat melengkapi atau menambah kebutuhan gizi anak. Disamping itu juga
untuk mengisi kekosongan lambung, karena setiap 3-4 jam sesudah makan, lambung
mulai kosong. Akhirnya apabila tidak beri jajan, si anak tidak dapat memusatkan
kembali pikirannya kepada pelajaran yang diberikan oleh guru dikelasnya. Jajan
juga dapat dipergunakan untuk mendidik anak dalam memilih jajan menurut 4 sehat
5 sempurna (Yusuf, dkk, 2008).
Namun, terlalu sering mengkonsumsi
makanan jajanan akan berakibat negatif, antara lain nafsu makan menurun,
makanan yang tidak higienis akan menimbulkan berbagai penyakit, dapat
menyebabkan obesitas pada anak, kurang gizi karena kandungan gizi pada jajanan
belum tentu terjamin dan pemborosan. Permen yang menjadi kesukaan anak-anak
bukanlah sumber energi yang baik sebab hanya mengandung karbohidrat. Terlalu
sering makan permen dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan gigi (Irianto,
2007).
Direktorat
Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Republik Indonesia
dalam Marlina (2003) menyebutkan beberapa aspek positif makanan jajanan yaitu:
1. Lebih murah daripada masak sendiri
Diperkirakan
setiap keluarga di daerah perkotaan membelanjakan uangnya untuk makanan jajanan
bervariasi dari 15% sampai 20% dari seluruh anggaran rumah tangga yang
disisihkan untuk makanan. Makanan jajanan ini dapat dijual dengan relatif murah
dibandingkan dengan masak sendiri karena bahan-bahan dan bumbu dibeli dengan
harga murah di pasar dan dalam jumlah yang banyak. Kadang-kadang untuk
mempertahankan harga yang murah para pedagang makanan terpaksa harus membeli
bahan makanan yang rendah mutunya.
2. Manfaat makanan jajanan bagi anak sekolah dan
pekerja
Makanan
yang dikonsumsi di pagi hari akan mengganti zat tenaga dan zat-zat lainnya yang
telah digunakan semalaman oleh tubuh. Disamping sebagai cadangan makanan yang
disimpan dalam tubuh selama jam sekolah kandungan zat gizi yang diperoleh dari
makanan pagi tersebut akan menurun. Untuk mengatasi hal tersebut dapat
diperoleh dengan mengkonsumsi makanan jajanan. Bagi kedua kelompok ini makanan
memegang peranan penting dalam memenuhi kecukupan gizi, terutama energi.
3. Peranan makanan jajanan dalam pemenuhan
kecukupan gizi
Hasil
penelitian Sujana dan kawan-kawan
terhadap 52 macam jajanan yang sering dikonsumsi oleh orang dewasa maupun anak
sekolah yang harganya relatif murah, kandungan zat gizi dari makanan jajanan
sumber energi menempati urutan pertama, kemudian diikuti campuran sumber energi
dan protein seperti mie bakso.
D. Makanan Jajanan yang Aman
Menurut
Srikandi dalam Marlina (2003), masalah makanan jajanan di Indonesia umumnya
terjadi karena pengolahan dan penyajiannya yang tidak higienis. Biasanya
diproduksi dan dijual dalam kondisi yang kurang baik sehingga sering
terkontaminasi oleh mikroorganisme dan hal ini dapat menimbulkan berbagai
penyakit.
Makanan sehat selain mengandung zat gizi yang cukup dan seimbang juga harus
aman, yaitu bebas dari bakteri, virus, parasit, serta bebas dari pencemaran zat
kimia. Makanan dikatakan aman apabila kecil kemungkinan atau sama sekali tidak
mungkin menjadi sumber penyakit atau yang dikenal sebagai penyakit yang
bersumber dari makanan (foodborne disease). Oleh sebab itu, makanan harus
dipersiapkan, diolah, disimpan, diangkut dan disajikan dengan serba bersih dan
telah dimasak dengan benar (Soekirman, 2000). Pangan jajanan yang sehat dan
aman adalah pangan jajanan yang bebas dari bahaya fisik, cemaran bahan kimia
dan bahaya biologis (Direktorat Perlindungan Konsumen, 2006).
1) Bahaya
fisik dapat berupa benda asing yang masuk kedalam pangan, seperti isi stapler,
batu/kerikil, rambut, kaca.
2) Bahaya
kimia dapat berupa cemaran bahan kimia yang masuk ke dalam pangan atau karena
racun yang sudah terkandung di dalam bahan pangan, seperti: cairan pembersih,
pestisida, cat, jamur beracun, jengkol.
3) Bahaya
biologis dapat disebabkan oleh mikroba patogen penyebab keracunan pangan,
seperti: virus, parasit, kapang, dan bakteri.
Adapun
kiat memilih pangan jajanan yang sehat dan aman yaitu: (Direktorat Perlindungan
Konsumen, 2006)
1) Hindari
pangan yang dijual di tempat terbuka, kotor dan tercemar, tanpa penutup dan
tanpa kemasan
2) Beli
pangan yang dijual ditempat bersih dan terlindung dari matahari, debu, hujan,
angin dan asap kendaraan bermotor. Pilih tempat yang bebas dari serangga dan
sampah.
3) Hindari
pangan yang dibungkus dengan kertas bekas atau koran. Belilah pangan yang
dikemas dengan kertas, plastik atau kemasan lain yang bersih dan aman.
4) Hindari
pangan yang mengandung bahan pangan
sintetis berlebihan atau bahan tambahan pangan terlarang dan berbahaya.
Biasanya pangan seperti itu dijual dengan harga yang sangat murah.
5) Warna
makanan atau minuman yang terlalu menyolok, besar kemungkinan mengandung
pewarna sintetis, jadi sebaiknya jangan dibeli.
6) Untuk
rasa, jika terdapat rasa yang menyimpang, ada kemungkinan pangan mengandung
bahan berbahaya atau bahan tambahan pangan yang berlebihan.
E. Akibat Makanan
Jajanan
Jajan
yang terlalu sering dan menjadi kebiasaan akan berakibat negatif, antara lain:
(Irianto, 2007)
1. Nafsu makan menurun.
2. Makanan yang tidak higienis akan menimbulkan
berbagai penyakit.
3. Salah satu penyebab terjadinya obesitas pada
anak.
4. Kurang gizi sebab kandungan gizi pada jajanan
belum tentu terjamin.
5. Pemborosan.
Keamanan
makanan jajanan juga masih diragukan. Pada penelitian yang dilakukan di Bogor
telah ditemukan Salmonella paratyphi
A di 25%-50% sampel minuman yang dijual
di kaki lima. Penelitian lain yang dilakukan suatu lembaga studi di daerah
Jakarta Timur mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang sering dikonsumsi oleh
anak-anak sekolah adalah lontong, otak-otak, tahu goreng, mie bakso dengan
saus, ketan uli, es sirop, dan cilok. Berdasarkan uji lab ditemukan borax,
formalin, dan rhodamin B pada jajanan tersebut. Penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) ini dapat
terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka
panjang menyebabkan penyakit-penyakit (Judarwanto, 2008). Sejumlah ahli sudah
meneliti bahaya beberapa jenis bahan tambahan pangan, termasuk yang digunakan dalam makanan jajanan ringan.
Misalnya pewarna Erythrosin, tartazine dan sunset yellow bisa menimbulkan
alergi saluran pernafasan, membuat anak jadi hiperaktif dan menimbulkan efek
kurang baik pada otak dan perilaku (Ratnawati, 2001).
Adapun
bahaya makana jajan yaitu :
1) Mengandung
Zat Warna Tekstil
Sebagai contoh adalah saus tomat. Tidak sedikit saus tomat
yang beredar terbuat dari ubi, cuka, dan zat warna tekstil (rhodomin-B). Zat
warna tekstil inilah yang diperkirakan berpotensi menimbulkan keluhan tersebut.
Tidak hanya sekadar pusing belaka yang ditakutkan, melainkan juga bahaya jangka
panjangnya. Zat warna tekstil jenis itu bersifat pemantik munculnya kanker bila
dikonsumsi rutin untuk waktu yang sama.
2) Bahaya
Cacing
Melihat kondisi seperti ini, semakin murah-meriah suatu
jajanan, boleh disimpulkan semakin besar berisiko membahayakan kesehatan.
Bahaya jangka panjang yang lain juga muncul bila jajanan sampai tercemar
cacing. Kebanyakan sayur mayur mentah (pernah diselidiki) di supermarket
mengandung telur cacing perut karena konon sebelum dibawa ke kota, dibersihkan
memakai air selokan di gunung. Air selokan umumnya sudah tercemar tinja
berpenyakit (penderita penyakit cacing perut). Telur cacing juga dapat pula
dibawa oleh jemari penjaja makanan (gado-gado, rujak, buah dingin, karedok,
ketoprak) bila penjaja makanan (food handle) mengidap penyakit cacing. Sehabis
penjaja makanan buang air besar dan tidak membasuh tangan dulu tetapi langsung
menyajikan makanan, telur cacing di kuku jemarinya akan mencemari makanan
jajanannya.
3)
Bahan-Bahan Berbahaya
Pada intinya adalah sudah saatnya kita selaku orang tua
maupun orang dewasa hendaknya berhati-hati apabila kita atau anak kita jajan di
luar. Tentunya kita tidak ingin apabila kita apalagi anak kita mengidap
penyakit kanker atau cacingan bukan? Sebagai tambahan wawasan, berikut ini
beberapa bahan-bahan berbahaya yang sering digunakan oleh penjual jajanan yang
tidak bertanggung jawab. Semoga dengan mengetahui jenis dan bahayanya, kita
lebih berhati-hati di kemudian hari.
4)
Gula bibit
Selain pewarna, jajanan kaki lima yang memang buat kantong
ekonomi lemah, dengan harga yang lebih terjangkau, tak mungkin sepenuhnya
menggunakan gula asli (gula pasir maupun gula merah), melainkan memilih gula
bibit. Kita tahu gula bibit tidak semuanya aman bagi kesehatan. Sebut saja gula
sakarin dan aspartam, yang jauh lebih murah dibanding gula asli. Bisa
dipastikan jenis gula bibit murah begini, yang sudah dilarang digunakan, masih
saja dipakai oleh rata-rata pembuat makanan dan minuman rumahan. Limun, sirup,
saus dan kecap murah, hampir pasti mencamprukan gula bibit, kalau bukan
seluruhnya bahan kimiawi berbahaya ini. Pemanis buatan lain tentu ada yang
lebih aman, dari daun stevia, misalnya.
5) Penyedap
Perhatikan bagaimana tukang bakso pinggir jalan menambahkan
bumbu penyedap (sodium gluamic). Dahulu, untuk menuangkan bumbu penyedap
(disebut mecin, vetsin) memakai sendok khusus terbuar dari kayu dengan
penampang seujung kelingking. Maksudnya paling banyak disedok pun, takarannya
hanya seujung kelingking itu. Tidak demikian hal sekarang, rata-rata dituang
langsung dari kantong plastik kemasan atau memakai sendok makan. Semakin banyak
penyedap dituangkan, semakin gurih rasa barang jualannya.Dari kacamata ekonomi,
akan lebih menguntungkan bila menuangkan lebih banyak penyedap karena menambah
lezat cita rasa jajanan.
6)
Formalin
Kita juga mengenal bahan formalin. Selain digunakan buat
pengawet mayat agar tidak lekas membusuk, formalin juga masuk ke indsutri
makanan (rumahan). Bukan baru sekarang kita mendengar atau mungkin membaca
kalau formalin juga masuk industri pembuatan tahu.Agar awet tidak lekas rusak
(basi), industri tahu (murah) juga memanfaatkan formalin, agar tidak sampai
merugi. Tahu yang berformalin dijajakan di mana-mana. Padahal, formalin juga
tidak menyehatkan.
7) Minyak
goreng bekas
Disinyalir, kebanyakan jajanan gorengan pinggir jalan juga
menggunakan minyak goreng bekas, kalau minyak goreng yang sudah dioploas dengan
minyak lain yang lebih murah. Minyak goreng oplosan ini yang diduga
membahayakan kesehatan. Kita sudah tahu kalau minyak goreng bekas (jelantah)
bersifat karsinogenik juga. Restoran ayam goreng yang tidak memakai lagi minyak
goreng habis pakainya, menjualnya ke penjual gorengan pinggir jalan.